KAWANGKOAN, identitasnews.id – Pasar Esa Waya Kawangkoan menjadi salah satu lokasi peninjauan dalam kegiatan koordinasi dan pembinaan pengelolaan pasar sehat berbasis konsep One Health yang melibatkan Food and Agriculture Organization (FAO), Kementerian Kehutanan, serta pemerintah daerah di Sulawesi Utara.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendorong penerapan konsep One Health dalam pengelolaan pasar, dengan memperhatikan keterkaitan antara kesehatan manusia, keamanan produk pangan dan kesehatan lingkungan.
Dr. Hewan Gunawan Budi Utomo dari FAO mengatakan, kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong tersusunnya pedoman teknis yang nantinya dapat diterapkan dalam pengelolaan pasar.
“Ini salah satu bentuk implementasi One Health, ada kesehatan manusianya, kesehatan produk pangan dan kesehatan lingkungan,” ujar Gunawan saat diwawancarai pada Kamis (8/10/2026).
Dalam pelaksanaannya, FAO bersama Kementerian Kehutanan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten, termasuk perangkat daerah yang berkaitan langsung dengan pengelolaan pasar dan kesehatan masyarakat.
Sejumlah instansi yang terlibat antara lain Dinas Perdagangan, Dinas Pasar, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian. Keterlibatan lintas sektor ini diperlukan karena pengelolaan pasar sehat tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik pasar, tetapi juga keamanan pangan, kesehatan pedagang dan konsumen serta dampaknya terhadap lingkungan.
Gunawan menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah penataan zonasi pasar. Produk kering dan produk basah perlu dipisahkan agar penanganan masing-masing komoditas dapat dilakukan secara lebih baik.
Selain itu, ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah serta pengolahan air limbah melalui instalasi pengolahan air limbah (IPAL) juga menjadi bagian penting dalam pembenahan pasar.
“Bagaimana menata pasar dengan lebih sehat, bagaimana zonasinya, bagaimana penanganan sampah, bagaimana ketersediaan air bersih dan bagaimana budaya kebersihan oleh pedagang,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, perhatian juga diarahkan pada komoditas yang memiliki tingkat risiko lebih tinggi, terutama produk basah seperti ikan, ayam dan satwa liar.
Menurut Gunawan, komoditas tersebut membutuhkan penanganan khusus karena berkaitan dengan limbah dan potensi risiko kesehatan apabila tidak dikelola dengan baik.
Program pembinaan ini tidak hanya menyasar Pasar Esa Waya Kawangkoan. Sebanyak lima kabupaten/kota telah dilibatkan sebagai lokasi percontohan, yakni Tomohon, Minahasa, Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow dan Minahasa Tenggara.
Pembinaan akan mencakup pedagang, pengelola pasar hingga pemasok atau supplier. Dengan demikian, aspek keamanan dan higienitas produk diharapkan dapat diperhatikan sejak dari hulu hingga hilir.
“Perlindungan tidak hanya ke masyarakat, tapi juga keamanan produknya, agar mulai dari hulu sampai hilir itu aman,” kata Gunawan.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Minahasa Lona Oktavianus Wattie, SSTP, MAP melalui Kepala Esa Waya Kawangkoan, Meiske P. Walangitan, menyatakan pihak pengelola pasar siap mendukung hasil kegiatan tersebut, khususnya dalam meningkatkan kebersihan lingkungan pasar dan kesadaran para pedagang.
Menurut Meiske, pedagang akan terus diarahkan untuk menjaga kebersihan tempat berjualan, termasuk setelah aktivitas perdagangan selesai.
“Para pedagang tetap kami arahkan untuk mengikuti aturan yang ada, seperti menjaga kesehatan dan menjaga kebersihan,” ujarnya.
Ia menambahkan, perhatian terhadap kebersihan terutama penting bagi pedagang yang menjual daging dan komoditas basah lainnya. Pedagang diharapkan menjaga kebersihan tangan, peralatan serta area tempat berjualan.
Dengan adanya koordinasi lintas sektor melalui kegiatan pembinaan pasar sehat berbasis One Health ini, Pasar Esa Waya Kawangkoan diharapkan dapat terus berbenah dan memberikan lingkungan berbelanja yang lebih sehat, aman dan nyaman bagi masyarakat.
(rom)














