Penulis: Efraim Ever Lengkong
Ketua Kelompok Pelayanan Usia Lanjut (KPL) GMIM Karunia Sea Satu
Wakil Ketua KPL GMIM Wilayah Malalayang Timur, Kota Manado
Carilah Orang yang Cakap dan Takut akan Allah
(Keluaran 18:13–27)
Musa memimpin bangsa Israel sendirian, mengadili dari pagi hingga petang, menampung semua perkara di pundaknya. Maka datanglah Yitro, imam di Midian, mertua Musa, ayah dari Zipora istri Musa.
Zipora dalam bahasa Arab berarti “burung”. Ia melihat apa yang terjadi dan berkata dengan tegas:
“Musa…! Tidak baik yang engkau lakukan ini. Pasti habis tenagamu, baik engkau maupun bangsa ini.”
Perlu diketahui:
Pada zaman dahulu, tanah Midian membentang luas mencakup wilayah timur Teluk Aqaba, pesisir barat laut Jazirah Arab, sebelah selatan tanah Edom, bagian utara hingga tepi Moab, dan sebagian wilayah semenanjung Sinai. Kaum Midian hidup sebagai suku penggembala dan “pedagang nomaden” pedagang yang berpindah-pindah di jalur perdagangan kuno.
Saat ini wilayah tersebut masuk ke dalam Provinsi Tabuk, Arab Saudi, Kaum Midian tidak ikut dalam perjalanan keluar bangsa Israel.
Yitro sendiri adalah keturunan Abraham dan Hagar. Beberapa tahun kemudian, sesudah Sarah meninggal, Abraham kembali bersatu dengan Hagar yang kemudian namanya diubah menjadi Ketura dalam bahasa Aram bermakna “Terikat”, menunjukkan ikatan kekeluargaan dan kesatuan yang tak terputus.
Lalu Yitro memberikan nasihat emas yang tak lekang oleh waktu:
“Carilah orang-orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan membenci suap, untuk menolong memikul beban bersama-sama.”
Pesan ini terasa makin nyata ketika kita menyaksikan kenyataan yang memilukan: nurani keadilan dijual-belikan. Ada hakim yang pandai menyusun pertimbangan hukum, memahami pasal demi pasal, menyusun putusan dengan indah tetapi tidak takut akan Tuhan.
Putusan dapat disesuaikan dengan pesanan, kebenaran dikorbankan, keputusan bergantung pada siapa yang memberi lebih. Putusan hakim ibarat pepatah lama: “Roti siapa yang dimakan, kehendaknya dituruti.” Hal ini membuktikan bahwa “kecakapan tanpa takut akan Allah” justru menjadi senjata untuk memutarbalikkan kebenaran.
Bulan depan, 16 Oktober 2026, warga GMIM akan memilih Pelayan Khusus (Pelsus): Diaken, Penatua, dan Komisi Pelayanan Kategorial Jemaat.
Penatua dan Diaken dipilih dan diberikan mandat untuk mewakili suara jemaat di kolom masing-masing. Mereka adalah mulut dan hati jemaat apa yang disampaikan harus murni suara jemaat.
Pesan Yitro dengan tegas mengingatkan kita: jangan memilih orang yang bebal orang yang hatinya keras, tidak mau mendengar nasihat, tidak belajar dari kesalahan, dan tetap pada pendiriannya sendiri meski sudah jelas salah.
Juga jangan memilih mereka yang mencintai uang, yang memanfaatkan jabatan untuk keuntungan sendiri, atau yang tidak bertanggung jawab terhadap milik organisasi gereja. Orang yang bebal tidak akan menyampaikan suara jemaat dengan benar, tidak akan bertanggung jawab, tidak akan jujur, dan tidak akan melayani dengan tulus. Menyalahgunakan uang gereja adalah mencurangi Tuhan dan melukai jemaat.
Tanda pemimpin yang sejati terlihat dari semangat diakonia melayani dan mengalah, bukan mendahulukan diri sendiri.
Dulu ketika saya memimpin di kantor redaksi majalah/tabloid, saya belajar hal ini: ketika makanan tidak cukup, saya rela tidak makan atau makan yang terakhir. Sebagai pemimpin, saya mengalah, memberi kesempatan duluan kepada yang lain, tidak memanfaatkan kedudukan untuk mendapat bagian lebih dulu atau lebih banyak.
Pemimpin yang takut akan Allah ialah: yang memberi, bukan mengambil; yang melayani, bukan dilayani; yang mengalah, bukan mendahulukan diri sendiri.
Pesan Yitro pada Musa menjadi pedoman bagi kita untuk memilih pemimpin yang cakap dan sanggup melayani mau belajar, hatinya terbuka, rapi, bertanggung jawab, mengelola keuangan dengan transparan, setiap masuk dan keluar dicatat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemimpin yang cakap sadar bahwa Tuhan melihat setiap hal bukan bertanya “apa untung bagi saya?”, melainkan “apakah tindakan saya sudah benar di hadapan Tuhan?”
Kiranya awan gelap kepemimpinan kelabu yang terjadi di luar sana menjadi pengingat tegas bagi kita: jangan biarkan KKN masuk ke dalam rumah Tuhan.
Pilihlah mereka yang hatinya takut akan Tuhan dan yang tidak bebal, tidak keras kepala, tidak akan menjual kepercayaan, tidak akan menyalahgunakan amanah, dan melayani dengan semangat memberi, bukan mengambil.
Karena kepercayaan jemaat bukan roti untuk dimakan lalu dituruti kehendak sendiri. Itu adalah amanah dari Surga. Pilihlah dengan hati yang peka, agar suara jemaat tersampaikan dengan murni, kebenaran tetap tegak, amanah dijaga murni, dan nama Tuhan dimuliakan sepenuhnya.
Tuhan memberkati langkah pelayanan dan seluruh keputusan jemaat. Sehat dan diberkati senantiasa!.
“God bless GMIM”















