KEMBALIKAN MAKNA ASLI PRESBITERIAL SINODAL GMIM YANG TERLUPAKAN

“Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan”. Filipi 2 : 2

Plato: “Jadilah pemimpin Yang Tidak Sibuk Mencari Kepentingan Diri, Tetapi Terus Bertanya Apa Yang Paling Benar Dan Adil Bagi Banyak Orang.”

SISTEM Presbiterial Sinodal GMIM lahir dari dua kata yang murni dan sederhana:

Presbiterial, dari kata ‘presbyteros’ yang berarti penatua. Pemerintahan gereja berada di tangan Majelis Jemaat, di mana Pendeta, Penatua, dan Diaken berdiri setara. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah. Semua adalah hamba yang melayani, hanya berbeda fungsi.

Sinodal dari kata ‘synodos’ yang berarti berjalan bersama. Keputusan dan arah gereja ditetapkan secara bersama, antar jemaat, secara langsung, lurus, dan utuh.

Namun kenyataan yang kita hadapi kini berjalan menyimpang: muncul “Sinode-Sinode kecil” di setiap wilayah pelayanan. Wilayah yang tadinya hanya untuk koordinasi, kini berubah menjadi penentu yang menyaring aspirasi jemaat sebelum sampai ke Sidang Sinode.

Sejatinya keberadaan Wilayah hanyalah untuk koordinasi, bukan untuk menyaring, menahan, atau mengubah suara jemaat.

Suara jemaat adalah suara langsung dari umat. Tidak boleh disaring, tidak boleh diputus, tidak boleh dibelokkan sebelum sampai ke Sinode. Ketika perantara mulai menentukan siapa yang boleh, apa yang boleh, dan bagaimana suara itu disampaikan maka Wilayah tidak lagi menjadi jembatan, melainkan menjadi tembok.

Hal ini bukan sekadar menyalahi ketentuan dalam Buku Tata Gereja melainkan kesalahan yang disengaja, di mana isi dari buku tersebut diubah-ubah demi kepentingan pribadi dan keegoisan sekelompok orang.

Tindakan ini tidak benar secara tata kelola gereja, sekaligus menimbulkan ketidakefisienan dan pemborosan yang merugikan jemaat.

Adanya “Sinode kecil” di setiap wilayah, otomatis kas penerimaan dana menjadi dua pintu atau dalam istilah perbankan disebut dua receiving teller yang seharusnya satu jalur lurus, kini terbagi.

Hal ini menjadi beban nyata bagi jemaat, Pelsus, dan Ketua Jemaat dalam menyetorkan persembahan jemaat.

Dana yang seharusnya digunakan untuk perawatan gedung Tuhan, pelayanan, dan membantu yang lemah justru terbagi-bagi di jalur yang berbelit-belit dan abstrak.

Di tengah kondisi ini, dampak gejolak global (Geo Politik) pun terasa sampai ke jemaat: ketidakstabilan harga kebutuhan hidup, mahalnya BBM, serta maraknya mafia tambang, mafia BBM, dan mafia tanah yang semakin menekan pendapatan keluarga jemaat.

Kondisi yang menyedihkan terlihat jelas: terbentuk “Sinode kecil di dalam Sinode”. Di tingkat jemaat pun sama — ada sekelompok kecil yang dianggap “jemaat sejati”, sementara yang lain hanya diundang untuk hadir dan menyetujui.

Ini bukan Presbiterial Sinodal. Ini adalah hierarki buatan yang dilarang oleh Alkitab dan tata kelola gereja kita.
Rasul Paulus menegaskan: “Sempurnakanlah sukacitaku sehati sepikir, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.” Tidak ada golongan yang lebih utama, tidak ada suara yang lebih berkuasa. Semua sama di bawah Kristus, Kepala Gereja yang satu.

Tuhan memberikan kita roh akal dan hikmah, bukan roh pamer atau “makang puji”. Acara-acara seremonial yang boros dan membebani anggaran jemaat harus dihapuskan dan diganti dengan pelayanan kasih dan diakonia kepada jemaat yang sungguh-sungguh membutuhkan.

Di sisi lain, kita juga melihat beberapa oknum yang tersandung masalah hukum, sebagian terkait kegiatan seremonial yang bernuansa politik. Hal ini menjadi peringatan: pelayanan harus kembali murni, fokus pada Firman dan kasih, bukan pada kepentingan dunia.

Maka, mari kita melangkah bersama: Kembalikan fungsi Wilayah sebagai koordinasi murni mengumpulkan, menyatukan, meneruskan, bukan menyaring atau menentukan. Suara jemaat harus sampai ke Sinode dalam keadaan utuh, apa adanya.

Hapus praktik “Sinode kecil” keputusan diambil bersama, secara terbuka, oleh semua wakil jemaat, bukan ditetapkan sekelompok orang sebelum sidang.

Hilangkan pemborosan — pangkas jalur yang berbelit, sederhanakan perjalanan amanah, sehingga dana dan tenaga kembali ke pelayanan yang sesungguhnya.

Tegakkan kesetaraan sejati antara Pendeta, Penatua, Diaken, dan seluruh anggota jemaat: semua adalah hamba. Tidak ada tuan di antara kita. Hanya Kristus yang menjadi Kepala.

Jemaat GMIM yang dikasihi Tuhan,…
Kita sedang menuju persidangan yang penting. Jangan biarkan jalur menjadi berbelok. Jangan biarkan suara menjadi teredam. Jangan biarkan anggaran habis di perantara, sementara pekerjaan Tuhan menanti.

Presbiterial Sinodal berarti: dari jemaat, oleh jemaat, untuk jemaat langsung ke Sinode. Berjalan bersama, setara, lurus, dan murni. Bukan Sinode tersembunyi yang masing-masing membangun kamar oligarki di tubuh BPMS.
Dilengkapi senjata dan amunisi “Siapa dekat api dia panas, dan yang dianggap tidak sejalan akan kedinginan dipetieskan.”

Semoga kita kembali ke jalur sejati, sehingga GMIM menjadi gereja yang satu hati, satu kasih, satu jiwa, satu tujuan demi kemuliaan Allah yang satu. Amin.

Penulis: Efraim Lengkong
Ketua KPL GMIM Karunia Sea Satu — Wakil Ketua KPL GMIM Wilayah Malalayang Timur, Kota Manado.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *