Idul Fitri: Matriks Kerinduan Primordial Menuju Kebenaran Diri

by, Efraim Lengkong (70)
“Senior Journalist”

IDUL FITRI di Indonesia yang lebih dikenal dengan sebutan Lebaran adalah momen yang sarat makna – bukan hanya sebagai hari raya setelah sebulan penuh berpuasa, melainkan juga sebagai titik temu untuk kembali kepada kesucian diri, saling memaafkan, dan berkumpul bersama keluarga. Bulan Ramadhan, yang berlangsung selama 29 hingga 30 hari sesuai dengan penampakan hilal, mengajak umat Muslim untuk menahan lapar dan haus dari subuh hingga maghrib, berdasarkan perhitungan kalender Hijriah.

Di tengah ibadah puasa tersebut, fenomena mudik selalu menjadi warna khas yang tak terpisahkan. Istilah “mudik” berasal dari budaya Melayu-Nusantara, tepatnya dari kata “udik” yang merujuk pada kampung pedalaman. Bagi mereka yang tinggal jauh dari kampung halaman, kerinduan untuk segera pulang seringkali terasa mendalam. Pertanyaan mengapa kata “pulang” atau “kembali” (dalam bahasa Arab dikenal dengan raja’a beserta derivasinya seperti yarji’u, irji’î, râjiûn) memiliki makna fundamental dalam tradisi Alquran dapat dijawab dengan sederhana: karena setiap orang yang mengetahui asal-usul kampung nenek moyangnya merasakan kebutuhan mendasar untuk kembali ke akar diri.

Ramadhan, mudik, dan Idul Fitri bukanlah rangkaian peristiwa yang berjalan secara linier, melainkan sebuah matriks kerinduan primordial yang mengajak individu untuk menyelami diri sendiri. Ramadhan menjadi momen perenungan yang mendalam, sebuah proses menyelam ke dalam diri guna menemukan esensi diri yang otentik. Selama ini, banyak di antara kita cenderung berusaha untuk “keluar” dan menunjukkan diri kepada dunia, lalu terperangkap dalam simulakrum kehidupan – terjebak pada citra semu, prestise, status sosial, mode, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan fitrah diri.

Secara moral, kondisi ini membuat manusia terlepas dari “kebahagiaan asali” yang merupakan hakikat surga (paradiso), terpisahkan dari kesucian primordial (fitrah), dan tercampakkan dalam kegelapan kehidupan yang tidak berarti (inferno). Oleh karena itu, ajaran Alquran mengajarkan tentang pentingnya bangkit dan melepaskan diri dari kepompong “aku-gelap” menuju “aku-cahaya” yang sesungguhnya, sebagaimana tercantum dalam firman-Nya: “min al-zhulumâti ila al-nûr” (dari kegelapan menuju cahaya).

Kerinduan manusia untuk menyucikan ruhannya melahirkan naluri mendalam untuk kembali kepada “Asal-Yang-Suci”. Naluri kosmik ini menjadi dasar gerak siklis yang terdapat pada seluruh realitas alam semesta – seperti tawaf yang dilakukan dalam tradisi ibadah haji. Atom berputar mengelilingi sumbunya, bulan mengitari bumi, bumi mengorbit matahari, dan matahari sendiri bergerak mengelilingi pusat galaksi. Kesadaran akan eksistensi yang paling dalam, yang dalam teologi dikenal sebagai Tuhan, menjadi tujuan akhir dari gerakan ini. Inilah makna esensial dari pesan etis Alquran yang berbunyi: “Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn” – “Sungguh kita semua berasal dari Allah, dan hanya kepada Allah kita kembali.”

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H (21 Maret 2026). Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah segenap umat Muslim, mengampuni segala dosa yang telah diperbuat, dan menjadikan kita kembali suci serta penuh dengan keberkahan dalam hidup ini dan akhirat kelak. (*)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *